Ini Kronologi Pembakaran Sebuah Gereja Di Aceh

On 2015-10-16 by admin

Dulu, sewaktu masih duduk dibangku sekolah dasar kita di ajarkan akan toleransi antar umat beragama, tepo seliro, saling menghormati walaupun agama yang kita anut berlainan. Masih ingatkah kamu?

Entah mengapa seiring dengan kemajuan tehnologi, hal tersebut seakan tergerus dengan kemajuan jaman. Banyak orang yang sudah tidak peduli lagi dengan hal-hal yang demikian.

Seperti yang terjadi belum lama ini, sebuah peristiwa yang dapat memecah belah persatuan antar umat beragama terjadi di Propinsi Aceh. Tepatnya di Desa Sukamakmus, Kecamatan Gunung Meriah, Kabupaten Aceh Singkil, Nanggore Aceh Darussalam, telah terjadi pembakaran Gereja pada hari Selasa 13 Oktober 2015 yang lalu.

Hal ini sungguh sangat mengejutkan masyarakat Indonesia dan disayangkan oleh banyak pihak termasuk Kapolri Jenderal Polisi Badrodin Haiti. Pembakaran Gereja itu terjadi diperkirakan karena sekelompok warga menolak pembangunan gereja di desa itu dikarena kan tidak memiliki izin.

Kapolri menuturkan, sebelumnya sudah ada sebuah kesepakatan antara pemerintah daerah dengan masyarakat terkait dengan adanya sekitar 21 buah gereja yang dianggap bermasalah dan tidak mempunyai izin.

Peristiwa itu terjadi pada sekitar pukul 08.00 pagi, massa sudah berkumpul di Masjid Lipat, Kajang bawah, Simpang Kanan, Aceh Singkil. Lalu saat tepat pukul 10.00, massa bergerak menuju Tugu, Simpang Kanan namun mereka berhasil dihadang oleh pasukan TNI-Polri.

singkil-mencekam_20151013_132653

Kelompok massa sebanyak 500 orang ternyata yang ditahan hanya 20 orang saja. Hingga akhirnya pada pukul 11.00 massa yang dihadang pun menyebar dan ada yang menggunakan motor menuju gereja hingga gereja pun dibakar.

Setelah membakar gereja, massa bergerak lagi ke Desa Danguran, Kecamatan Simpang Kanan, Kecamatan Aceh Singkil. Dan disanalah terjadi perkelahian antara masyarakat penjaga gereja dengan massa yang tadinya membakar gereja. Akibat perkelahian tersebut hingga jatuh satu korban tewas akibat tertembak. Lalu ada lagi empat orang lainnya luka-luka, salah satu diantaranya adalah seorang anggota TNI.

Banyak pihak yang menyayangkan hal ini bisa terjadi karena sesungguhnya siapapun berhak memeluk agama dan beribadah sesuai kepercayaan mereka masing masing tanpa adanya campur tangan dan paksaan dari orang lain. Padahal, tadinya, warga Aceh itu dikenal sebagai warga yang sangat toleran terhadap umat agama lain. Entah kenapa bisa terjadi seperti itu.

Semoga Indonesia menjadi negara yang seperti dulu lagi, rukun damai tanpa ada kekerasan walaupun hidup dalam perbedaan.

Sumber : hello-pet.com

Leave a Reply

You Might Also Like